Kamis, 02 Juni 2016

Tafsir Surat An-Nisa Ayat 144

Tafsir Surat An-Nisa Ayat 144


Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Dakwah Era Digital
Dosen Pembina: Dr. Ahmad Sastra .M.M.

Hasil gambar untuk gambar kaligrafi arab

Oleh:
Nama : Augusta Angga Surya
Npm: 151104110108
Jurusan : Komunikasi Dan Penyiaran islam


Surah An-Nisa Ayat 144


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡكَٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۚ أَتُرِيدُونَ أَن تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗا مُّبِينًا ١٤٤

Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu),” 
(QS An-Nisa: 144).


  Ayat sebelumnya mengungkap kebusukan orang munafiq, baik hati, ucap maupun budiperangainya. Ayat 144 melarang kaum muslimin untuk mengangkat kafir sebagai pemimpinnya. Keterkaitan antara keduanya mengisyaratkan bahwa orang munafiq itu sebenarnya termasuk kaum kafirin yang tidak pantas dijadikan pemimpin.


  Ayat melarang keras orang mu`min mengangkat yahudi atau nashrani jadi pemimpinnya. Biarkanlah mereka saling memimpin satu sama lain. Jangan dibiarkan orang kafir memimpin mu`min. Konsekuansi memilih pemimpin dari kalangan kafir berdasar ayat ini antara lain :
(1) dikelompokkan pada orang kafir
(2) jauh dari petunjuk Allah
(3) divonis sebagai orang yang zhalim.
 Zhalim adalah menempatkan sesuatu tidak sesuai proporsinya. Orang mu`min seharusnya jadi pemimpin, bukan dipimpin orang lain.

Namun menurut al-Maraghi yang dimaksud أَوْلِيَاءَ pada ayat ini utamanya adalah penolong atau pelindung. Tegasnya orang mu`min tidak boleh minta pertolongan atau perlindungan dari kalangan orang kafir ataupun munafiq.


Pemimpin yang menggunakan kekuasaannya bukan untuk kebaikan tapi untuk keburukan, kezaliman. Hampir semua kata-kata kafir dalam Al Qur'an dihubungkan dengan ingkarnya kenikmatan dan ketiadaan rasa syukur. Dan kafir itu bisa ditujukan juga untuk muslim itu sendiri, bila dia tidak mau bersyukur dan mengingkari nikmat Tuhannya. Kemudian dalam menafsirkan ayat Al Qur'an disamping membutuhkan kemampuan dalam gramatikal bahasa Arab (mengingat bahasa Al Qur'an adalah bahasa Arab dalam tingkat tinggi), juga memahami Asbanun Nuzul (konteks dan latar belakang diturunkan ayat Al Qur'an). Karena walaupun ayat Al Qur'an adalah firman Tuhan yang mempunyai sifat Mutlak (Absolut) ketika dia di ajarkan dan mencoba diaplikasikan dalam tataran manusia yang mempunya sifat Relativitas (bergantung pada yang lain) dia menggunakan bahasa manusia yang juga mempunyai sifat Relatif. Karena itu tidak pernah bisa ayat Al Qur'an dilepaskan dari konteks (Asbabun Nuzul).

Sejarah berabad-abad lamanya telah mengajarkan pada kita bahwa pertumpahan darah akan terus menerus terjadi, lebih karena kepentingan politik dan ego masing-masing. Bila kita berpikir jernih semua ini bukan masalah agama. Sebelum turunnya agama, pertumpahan darah terus menerus terjadi. Karena agama apapun itu bisa ditafsirkan sesuai ego kita masing-masing, radikal, moderat atau liberal. Yang berbuat jahat atau berbuat baik bisa muncul dari orang apapun, dari agama manapun. Bukan masalah agamanya, tapi masalah orangnya. Maka sekarang sebenarnya siapa sebenarnya yang kafir? Sebenarnya adalah orang-orang yang berbuat kezaliman terhadap sesama dan membuat kerusakan di muka bumi. Intinya adalah mari hidup rukun dan damai. Berlomba-lomba dalam kebaikan dan menebarkan kedamaian di muka bumi serta mencari keselamatan dunia - akhirat.

Tafsir Surat Al-Mujadalah Ayat 11

Tafsir Surat Al-Mujadalah Ayat 11


Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Dakwah Era Digital
Dosen Pembina: Dr. Ahmad Sastra .M.M.


Hasil gambar untuk gambar kaligrafi arab


Oleh:
Nama : Augusta Angga Surya
Npm: 151104110108
Jurusan : Komunikasi Dan Penyiaran islam


Surah Al-Mujadalah ayat 11


Artinya : 
  • Hai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepadamu ‘berlapang-lapanglah dalam majelis’ maka lapangkanlah niscaya Allah akan member kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan ‘berdirilah kamu’ maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Bagian akhir ayat ini menjelaskan bahwa Allah akan mengangkat tinggi kedudukan orang yang beriman dan orang yang diberi ilmu. Orang-orang yang beriman diangkat kedudukannya oleh Allah dan Rasul-Nya, sedangkan orang-orang yang berilmu diangkat kedudukannya karena mereka dapat member banyak manfaat kepada orang lain. Ilmu disini tidak terbatas pada ilmu-ilmu agama saja, tetapi termasuk di dalamnya ilmu-ilmu keduniaan. Apapun ilmu yang dimiliki seseorang bila ilmu itu bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, ilmu itu tergolong salah satu dalam tiga pusaka yang tidak akan punah meskipun pemiliknya telah meninggal dunia. Tiga pusaka dimaksud adalah sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakan kepada orang tuanya.
Dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11 di atas, Allah menganjurkan kepada kita agar senantiasa mau bekerja keras, baik dalam menuntut ilmu maupun bekerja mencari nafkah. Hanya orang-orang yang rajin belajarlah yang akan mendapatkan banyak ilmu. Dan hanya orang-orang yang berilmulah yang memiliki semangat kerja untuk meraih kebahagiaan hidup. Oleh karena itu, Allah menjamin akan mengangkat derajat kehidupan orang-orang yang beriman dan berilmu.
Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat menyaksikan orang yang rajin belajar dan bekerja hidupnya sukses dan berprestasi, sedangkan orang yang malas dan tidak memiliki ilmu hidupnya susah dan selalu gagal. Betapa pentingnya memiliki ilmu pengetahuan dan semangat berkerja keras. Sebab hanya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang bergunalah manusia akan mendapatkan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.
Perilaku orang yang mengamalkan isi kandungan ayat antara lain :
  1. Perilaku disiplin dan taat asas, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan baik diri sendiri maupun orang lain
  2. Menghormati hak dan kewibawaan orang lain, sebab pada dasarnya semua orang ingin dihargai dan dihormati kewibawaannya
  3. Rajin dan giat mencari ilmu, baik ilmu umum maupun ilmu agama
  1. Rajin dan taat beribadah kepada Allah
  2. Bersikap sportif dan konsekuen dengan bersedia menerima kesalahan dan kekurang diri sendiri serta mengakui kelebihan dan kebenaran dari orang lain
  3. Bekerja/belajar sesuai dengan aturan yang telah ditentukan
  4. Bekerja/belajar dengan penuh semangat, sehingga dipandang sebagai sesuatu yang menyenangkan
  5. Bekerja dengan sikap penuh tanggung jawab, tidak hanya kepada manusia melainkan kepada Allah
  6. Bekerja dengan didasari niat ibadah kepada Allah Swt.
Sebagai generasi yang hidup pada era modern, persaingan hidup semakin ketat dan peluang mendapat pekerjaan semakin sempit, hendaknya kita dapat mempersiapkan diri dengan berbagai bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan, serta etos kerja yang baik. Dengan demikian kita tidak akan tertinggal oleh generasi lain yang juga memiliki perbekalan diri yang cukup. Oleh sebab itu, hendaknya kita dapat membiasakan diri beretos kerja yang baik sejak saat ini. Untuk dapat membiasakan diri menerapkan beretos kerja yang baik, hendaknya terlebih dahulu diperhatikan :
  1. Pahami dengan baik bahwa waktu dan kesempatan datangnya hanya sekali dalam seumur hidup. Hari ini tidak akan datang lagi pada hari esok atau lusa, ia akan terkubur oleh hari-hari berikutnya.
  2. Biasakan menghargai waktu dan menggunakannya untuk hal-hal yang positif, jangan biarkan waktu berlalu tanpa arti atau terisi dengan perbuatan yang sia-sia
  3. Biasakan hidup teratur dan bersikap disiplin, taat kepada aturan, tepat atas komitmen, dan setia pada janji, sehingga hidup terasa indah dan bermakna
  4. Jadikan suatu pekerjaan sebagai kewajiban yang harus ditunaikan, sehingga tidak terbersit pikiran akan menyepelekannya
  5. Mulailah membiasakan diri beretos kerja yang baik sejak sekarang, dengan menata jadwal kegiatan sendiri dan berusaha menepati dan melaksanakannya.

Tafsir Surat An-Nahl Ayat 125

Tafsir Surat An-Nahl Ayat 125


Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Dakwah Era Digital
Dosen Pembina: Dr. Ahmad Sastra .M.M.

Hasil gambar untuk gambar kaligrafi naon weh

Oleh:
Nama : Augusta Angga Surya
Npm: 151104110108
Jurusan : Komunikasi Dan Penyiaran islam



Surat An-Nahl Ayat 125       


Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk
  
Dalam ayat ini Allah SWT memberikan pedoman-pedoman kepada Rasul-Nya tentang cara mengajak manusia ke jalan Allah. Yang dimaksud jalan Allah di sini adalah agama Allah yakni syariat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Allah meletakkan dasar-dasar seruan untuk pegangan bagi umatnya. Dasar-dasar seruan itu ada tiga tingkatan, yaitu :

1.      Seruan itu dilakukan dengan hikmah. Hikmah itu mengandung beberapa arti :
a.       Berarti pengetahuan tentang rahasia dari faedah segala sesuatu. Dengan pengetahuan itu sesuatu dapat diyakini keberadaannya.
b.      Berarti perkataan yang tepat dan benar yang menjadi dalil (argumen) untuk menjelaskan mana yang batal atau meragukan.
c.       Arti yang lain adalah bahwa kenabian itu dapat mengetahui hukum-hukum al-Qur’an, paham al-Qur’an, takut kepada Allah, benar perkataan dan perbuatannya. Arti yang paling tepat dan dekat dengan kebenaran adalah arti yang pertama yaitu pengetahuan tentang rahasia dan faedah sesuatu, yang mana pengetahuan itu memberi manfaat.

2.      Allah menjelaskan kepada rasul-Nya agar seruan itu dilakukan dengan mau’idhah hasanah  (pengajaran yang baik), yang diterima dengan lembut oleh hati manusia tapi berkesan di dalam hati mereka.
Tidaklah patut jika pembelajaran itu selalu menimbulkan rasa cemas, gelisah dan ketakutan pada jiwa manusia. Orang yang jatuh karena dosa disebabkan kebodohan atau tanpa sadar, maka tidaklah wajar jika kesalahan-kesalahannya itu dipaparkan secara terbuka sehingga menyakitkan hatinya.
Pembelajaran yang disampaikan dengan bahasa yang lemah lembut, sangat baik untuk menjinakkan hati yang liar dan lebih banyak memberikan ketenteraman daripada pembelajaran yang yang isinya ancaman dan kutukan-kutukan yang mengerikan. Jika sesuai tempat dan waktunya, tidak ada jeleknya memberikan pembelajaran yang berisikan peringatan yang keras atau tentang hukumanhukuman dan azab yang diancamkan Allah kepada mereka yang sengaja berbuat dosa (tarhib).
Untuk menghindari kebosanan dalam seruannya, Rasulullah menyisipkan dan mengolah bahan yang menyenangkan. Dengan demikian tidak terjadi kebosanan yang disebabkan urutan-urutan pengajian yang berisi perintah dan larangan tanpa memberikan bahan-bahan yang bisa melapangkan dada atau yang merangsang hati untuk melakukan ketaatan dan menjauhi larangan.
3.      Allah SWT menjelaskan bahwa bila terjadi perbantahan atau perdebatan maka hendaklah dibantah dengan cara yang terbaik.
Pada dasarnya, seruan itu hanya dengan dua cara di atas (hikmah dan mau’idhah hasanah), akan tetapi seseorang ketika mendapat perlawanan yang berat terkadang perlu menggunakan argumen-argumen yang keras dan kokoh yang bisa mengalahkan oarng-orang yang diserunya. Maka dari itulah cara menyeru yang berupa debat ini diikutkan pada pilihan metode menyeru ke jalan Allah SWT.
Debat itu aslinya bukan merupakan bagian dari metode untuk menyeru, akan tetapi dia hanyalah sebagai alat alternatif ketika seseorang dalam kondisi terdesak setelah tidak berhasil menerapkan dua cara yang tersebut sebelumnya. Satu contoh perdebatan yang baik adalah perdebatan antara Nabi Ibrahim dengan kaumnya yang kafir yang mana perdebatan tersebut bisa membawa mereka berpikir untuk memperbaiki kesalahan mereka sendiri sehingga mereka menemukan kebenaran. Tidaklah baik memancing lawan dalam berdebat dengan kata-kata yang tajam, karena hal itu dapat menimbulkan susana yang panas. Sebaliknya, hendaklah diciptakan suasana yang nyaman dan santai sehingga tujuan dalam perdebatan untuk mencari kebenaran itu dapat tercapai dengan hati yang puas. Suatu perdebatan yang baik adalah perdebatan yang dapat menghambat timbulnya sifat manusia yang negatif seperti sombong, tinggi hati, tahan harga diri, karena sisfat-sifat terebut sangat peka. Lawan debat supaya dihadapi sedemikian rupa sehingga dia merasa bahwa harga dirinya dihormati, karena tujuan utama adalah mencari kebenaran dari Allah SWT dan menghilangkan semua kebatilan, tidak ada tujuan tertentu selain itu.
Allah SWT menjelaskan bahwa ketentuan akhir dari segala usaha dan perjuangan itu ada pada Allah. Hanya Allah sendiri lah yang bisa menganugerahkan iman kepada seseorang. Dialah yang Maha Mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya yang tidak dapat mempertahankan fitrah insaniahnya (iman kepada Allah)dari pengaruh-pengaruh yang menyesatkan hingga dia jadi tersesat. Dia jualah Yang Maha Mengetahui di antara hamba-hamba-Nya yang fitrah insaniahnya tetap terpelihara sehingga terbuka hatinya untuk menerima petunjuk (hidayah) Allah SWT.