Tafsir Surat An-Nisa Ayat 144
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Dakwah Era Digital
Dosen Pembina: Dr. Ahmad Sastra .M.M.

Oleh:
Nama : Augusta Angga Surya
Npm: 151104110108
Jurusan : Komunikasi Dan Penyiaran islam
Surah An-Nisa Ayat 144
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡكَٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۚ أَتُرِيدُونَ أَن تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗا مُّبِينًا ١٤٤
Artinya :
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi
wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan
yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu),”
(QS An-Nisa: 144).
Ayat sebelumnya mengungkap kebusukan orang
munafiq, baik hati, ucap maupun budiperangainya. Ayat 144 melarang kaum
muslimin untuk mengangkat kafir sebagai pemimpinnya. Keterkaitan antara
keduanya mengisyaratkan bahwa orang munafiq itu sebenarnya termasuk kaum
kafirin yang tidak pantas dijadikan pemimpin.
Ayat
melarang keras orang mu`min mengangkat yahudi atau nashrani jadi pemimpinnya.
Biarkanlah mereka saling memimpin satu sama lain. Jangan dibiarkan orang kafir
memimpin mu`min. Konsekuansi memilih pemimpin dari kalangan kafir berdasar ayat
ini antara lain :
(1)
dikelompokkan pada orang kafir
(2) jauh dari petunjuk Allah
(3) divonis
sebagai orang yang zhalim.
Zhalim adalah menempatkan sesuatu tidak sesuai
proporsinya. Orang mu`min seharusnya jadi pemimpin, bukan dipimpin orang lain.
Namun
menurut al-Maraghi yang dimaksud أَوْلِيَاءَ pada ayat ini utamanya adalah
penolong atau pelindung. Tegasnya orang mu`min tidak boleh minta pertolongan
atau perlindungan dari kalangan orang kafir ataupun munafiq.
Pemimpin
yang menggunakan kekuasaannya bukan untuk kebaikan tapi untuk keburukan,
kezaliman. Hampir semua kata-kata kafir dalam Al Qur'an dihubungkan dengan
ingkarnya kenikmatan dan ketiadaan rasa syukur. Dan kafir itu bisa ditujukan
juga untuk muslim itu sendiri, bila dia tidak mau bersyukur dan mengingkari
nikmat Tuhannya. Kemudian dalam menafsirkan ayat Al Qur'an disamping
membutuhkan kemampuan dalam gramatikal bahasa Arab (mengingat bahasa Al Qur'an
adalah bahasa Arab dalam tingkat tinggi), juga memahami Asbanun Nuzul (konteks
dan latar belakang diturunkan ayat Al Qur'an). Karena walaupun ayat Al Qur'an
adalah firman Tuhan yang mempunyai sifat Mutlak (Absolut) ketika dia di ajarkan
dan mencoba diaplikasikan dalam tataran manusia yang mempunya sifat Relativitas
(bergantung pada yang lain) dia menggunakan bahasa manusia yang juga mempunyai
sifat Relatif. Karena itu tidak pernah bisa ayat Al Qur'an dilepaskan dari konteks
(Asbabun Nuzul).
Sejarah
berabad-abad lamanya telah mengajarkan pada kita bahwa pertumpahan darah akan
terus menerus terjadi, lebih karena kepentingan politik dan ego masing-masing.
Bila kita berpikir jernih semua ini bukan masalah agama. Sebelum turunnya
agama, pertumpahan darah terus menerus terjadi. Karena agama apapun itu bisa
ditafsirkan sesuai ego kita masing-masing, radikal, moderat atau liberal. Yang
berbuat jahat atau berbuat baik bisa muncul dari orang apapun, dari agama
manapun. Bukan masalah agamanya, tapi masalah orangnya. Maka sekarang
sebenarnya siapa sebenarnya yang kafir? Sebenarnya adalah orang-orang yang
berbuat kezaliman terhadap sesama dan membuat kerusakan di muka bumi. Intinya
adalah mari hidup rukun dan damai. Berlomba-lomba dalam kebaikan dan menebarkan
kedamaian di muka bumi serta mencari keselamatan dunia - akhirat.
